Stres Saat Kehamilan Dapat Berpengaruh Pada Otak Bayi

Segalanya yang berlangsung pada calon ibu yang tengah memiliki kandungan dapat berikan efek pada janin yang dikandungnya. Terhitung stres yang berlangsung sepanjang kehamilan. Stres itu berpotensi mengganggu tumbuh kembang otak janin.

Waktu stres, manusia mempunyai kandungan hormon kortisol (hormon stres) tinggi yang mengalir pada darahnya. Oleh karena itu, darah janin juga berpotensi memiliki kandungan hormon kortisol itu. Sekian yang diterangkan oleh psikolog Rini Hildayani dari Fakultas Psikologi UI.

“Darah ibu yang memiliki kandungan kortisol berperan juga untuk mengantarkan zat-zat gizi pada janin lewat plasenta. Maka ada kemungkin kortisol juga turut diantarkan,” terangnya dalam konferensi pers Happy Tummy Council bertopik “Gut-Brain Axis”, pada Kamis (3/4/2014) di Jakarta.

Tumbuh kembang anak berlangsung dari dalam kandungan terhitung pada 1.000 hari pertama kehidupan. Saat itu dikenal dengan arti periode emas perubahan otak anak. Rusaknya atau kurang optimalnya tumbuh kembang otak pada periode ini akan beresiko jangka panjang serta permanen.

Rini menyampaikan, tidak optimalnya tumbuh kembang otak janin lantaran stres terkait dengan jalinan pada saluran cerna dengan otak. Jalinan tersebur dikenal dengan arti gut-brain axis.

Dalam peluang yang sama, dokter spesialis anak Ahmad Suryawan, menyampaikan saluran cerna mempunyai jalinan yang erat pada otak. Saluran pencernaan yang sehat dapat memaksimalkan 80% perkembangan otak anak pada periode kritis, yaitu umur 0-6 tahun.

“Saluran cerna memengaruhi otak dari sebagian sisi, terhitung dari sisi hormon stres,” kata Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr Soetomo/FK Universitas Airlangga Surabaya ini.

Saluran cerna yang tidak sehat akan merangsang hormon kortisol di otak, begitupun sebaliknya bila badan dalam situasi stres, saluran cerna akan terganggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *