Sekali Lagi Katakan “Tidak Memilih Caleg Perokok” Untuk Indonesia

Indonesia waktu ini dalam situasi kritis darurat dalam hal jumlah perokok. Di beberapa negara di mana angka perokok selalu alami penurunan, di Indonesia jadi sebaliknya, presentasi jumlah perokok di atas 15 tahun selalu meningkat. Telah banyak bukti serta dengan kasat mata bahwasanya perokok menjumpai ajalnya disebabkan dari rokok itu. Beragam riset selalu menunjukkan bahwasanya rokok jadi pemicu beragam penyakit.

Momen Pemilu Legislatif (PILEG) 2014 adalah peristiwa dimana kita dapat menghimpit jumlah perokok. Dengan menentukan calon legislatif (CALEG) yang tidak merokok bermakna kita juga sudah berusaha untuk menghimpit jumlah perokok. Ketentuan daerah untuk mengatur jumlah perokok serta pengawasan atas Perda itu tidak akan jalan efisien bila instansi legislatif diisi oleh beberapa orang yang merokok. Juga yang menyedihkan malah asap rokok menguasai di beberapa ruang-ruang umum di instansi legislatif itu.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 Kementerian Kesehatan RI yang tunjukkan bahwasanya presentase perokok Indonesia di atas 15 tahun selalu meningkat. Sejauh yang saya ketahui pada saat kampanye PEMILU 2014 ini tidak ada yang menyinggung atau berupaya mengemukakan janji akan menghimpit jumlah perokok bila menang jadi anggota legislatif.

Saya meyakini sesungguhnya hati kecil orang merokok berupaya tidak untuk merokok namun lantaran memanglah hidup serta kehidupan telah dikuasai oleh rokok mereka sulit melepas diri untuk merokok.

Pada ringkasan eksekutif dari hasil RISKESDAS 2013, terang dijelaskan bahwasanya tingkah laku merokok masyarakat 15 tahun keatas selalu meningkat dari 2007 ke 2013. Pada tahun 2007, jumlah perokok masyarakat 15 tahun keatas di Indonesia meraih 34,2 serta meningkat jadi 36,3% th. 2013. Bila lihat komposisi nyatanya lebih 64,9 % lelaki serta 2,1 % wanita orang Indonesia tetap menghisap rokok tahun 2013.

Yang menarik dari data Riskesdas juga 1,4% perokok usia 10-14 tahun, 9,9% perokok pada grup tidak bekerja, meskipun tidak memiliki pendapatan terus mereka terus merokok. Sedang rerata jumlah batang rokok yang dihisap yaitu seputar 12,3 batang, beragam dari yang paling rendah 10 batang di DI Yogyakarta serta tertinggi di Bangka Belitung (18,3 batang).

Pembagian paling banyak perokok aktif tiap-tiap hari pada usia 30-34 tahun sebesar 33,4%, pada lelaki semakin banyak di bandingkan perokok wanita (47,5% banding 1,1%). Menurut jenis pekerjaan, petani/nelayan/buruh yaitu perokok aktif tiap-tiap hari yang memiliki pembagian paling besar (44,5%) dibanding grup pekerjaan yang lain. Kita ketahui beberapa besar perokok pada grup pekerjaan dengan pendapatan yang rendah.

Mereka yang merokok yang pasti bakal semakin banyak alami sakit dibanding dengan yang tidak merokok. Kemungkinan mereka untuk memperoleh penyakit kritis serta kanker juga lebih tinggi, serta di saat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) waktu ini mereka yang sakit disebabkan tingkah laku merokok itu bakal jadi tanggung jawab pemerintah. Negara Indonesia akan bangkrut bila hal semacam ini tidak bisa dikendalikan, kasihan untuk mereka yang tidak merokok, hak hidup layak mereka bakal tercampak lantaran jumlah beberapa perokok yang selalu meningkat.

Oleh karenanya rakyat mesti bangkit tidak untuk menentukan caleg yang merokok. Di instansi pendidikan sendiri beragam Universitas negeri telah melarang serta menampik perusahan rokok untuk mensponsori aktivitas kemahasiswaan serta pendidikan. Juga mahasiswa yang merokok tidak akan memperoleh beasiswa. Oleh karenanya bukan hanya hal yang terlalu berlebih supaya beberapa pemilih mencantumkan persyaratan “tidak merokok” untuk satu diantara penambahan atas persyaratan pilihan calegnya.

Ironis memanglah, perokok didominasi oleh orang yang berpendidikan rendah, beberapa orang yang berpendidikan tinggi condong hindari rokok. Begitupun beberapa orang dengan pendapatan terus serta status ekonomi baik juga menyusut yang merokok. Satu diantara hal yang bikin mereka kurangi konsumsi rokok lantaran mereka bekerja di ruang-ruang tertutup serta ber AC yang bikin mereka tak bisa merokok setiap waktu di ruangan tertutup. Disisi lain tingkat pendidikan tinggi serta kesadaran bakal efek dari merokok bikin perokok pada grup menengah keatas ini dapat menyusut.

Di segi lain yang butuh kita simak profil beberapa perokok Indonesia dari RISKESDAS 2010 nyatanya kian lebih 60% umur pertama kali orang merokok di Indonesia kurang dari 20 tahun. Grup usia 15-19 tahun adalah grup yang paling besar merokok dengan angka 43,3%. Umur ini yaitu umur mereka kelas 3 SMP, SMA serta awal kuliah. Biasanya grup ini yaitu anak baru gede (ABG) yang mengawali merokok untuk tunjukkan bahwasanya mereka telah dewasa. Namun ada hal yang benar-benar menyedihkan bahwasanya ada seputar 2,2% orang yang mulai merokok pada saat anak-anak yakni pada usia 5-9 tahun. Juga kita juga semua paham bahwasanya sebagian anak Balita kita telah jadi pencandu rokok.

Kita ketahui juga bahwasanya perokok aktif ini bakal jadi persoalan pada orang sekitarnya yang tidak merokok, mereka akan membuat orang di seputar menjadi perokok pasif dengan kemungkinan memperoleh beragam kemungkinan penyakit lantaran hirup asap rokok itu.

Nampaknya kita seluruhnya sudah mengetahui bahwasanya rokok beresiko jelek untuk kesehatan hanya persoalannya untuk perokok lantaran telah candu tidak gampang untuk mereka untuk memberikan keyakinan diri tidak untuk merokok. Nampaknya mereka mesti “kapok” terlebih dulu sebelum saat mereka berhenti merokok. Pasien yang alami kanker diantaranya kanker lidah, kanker kerongkongan, kanker paru atau kanker pankreas bakal menyesali mengapa mereka merokok. Serangan stroke mudah atau TIA juga kadang waktu bikin kapok seseorang perokok tidak untuk merokok lagi.

Untuk dokter saya juga kerap memperoleh penyesalan dari pasien perokok sesudah alami penyakit kritis yang membahayakan hidup serta kehidupannya. Beberapa perokok yang alami hipersensitifitas pada saluran pernafasannya di mana bila mulai merokok maka bakal rasakan sesak pasti tak lagi sempat untuk coba rokok lagi.

Efek lain yang sesungguhnya tak di ketahui oleh beberapa perokok bahwasanya rokok bakal mengakibatkan masalah pada saluran pencernaan atas seorang. Mereka yang merokok kerap terasa begah, cepat kenyang serta kembung. Mereka biasanya tak nafsu makan lantaran lambungnya telah jadi penuh dengan hirupan asap rokok. Keadaan hipoksia kritis pada seorang perokok dapat juga mencetuskan penurunan nafsu makan, Oleh karenanya kita kerap mendengar seorang perokok yang berhenti merokok berat tubuhnya bakal naik lantaran nafsu makannya jadi tambah atau jadi meningkat sesudah berhenti merokok.

Selanjutnya memanglah bagaimana kita bisa menghimpit jumlah perokok di Indonesia dengan membuat beberapa wakil rakyat yg tidak merokok untuk Indonesia yang tambah baik serta sejahtera lantaran di tangan mereka kebijaksanaan serta pengawasan ingindalian rokok bisa dikerjakan.

Paling akhir, saya bakal tentukan CALEG bukan hanya PARTAI, jadi buat saya mungkin pilihan untuk caleg DPR serta DPRD saya tidak dari satu partai, lantaran memanglah saya “Tidak tentukan partai namun tentukan Caleg”.

Selamat milih serta berdoa bangsa ini bakal tambah baik sesudah PEMILU 2014 ini.

Salam sehat,

Dr. Ari Fahrial Syam
Dosen serta praktisi kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *