Rupanya Pemahaman Tenaga Medis Berkenaan HIV/AIDS Belum Baik

Stigma pada pasien pengidap HIV oleh tenaga kesehatan maupun instansi pelayanan kesehatan akan kontraproduktif pada usaha pencegahan HIV. Walau sebenarnya, pergantian tingkah laku pengidap HIV akan berlangsung bila tenaga medis memperlakukan pasien dengan baik.

Hal itu disampaikan Gabriel John Culbert, pengajar dari Yale School of Medicine, pada lokakarya HIV Prevention Science : Behavioral and Biomedical Approaches di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Sabtu (12/4).

Menurut situs LSM yang beroperasi di sektor pencegahan HIV, www.avert.com, stigma serta diskriminasi berkenaan HIV/AIDS mengacu pada prasangka, tingkah laku negatif, serta perundungan pada pengidap HIV serta AIDS. Disebabkan dari stigma serta diskriminasi, diantaranya pengidap dijauhi keluarga, rekan, serta orang-orang, perawatan tidak cukup dari sarana pelayanan kesehatan, perlakuan tidak harusnya dari pihak sekolah, pengurangan hak, masalah psikologi, dan dapat berefek buruk pada kesuksesan tes HIV serta penyembuhan.

Culbert menyampaikan, stigma pada pasien pengidap HIV bukan sekedar berlangsung di Indonesia. Hal semacam itu juga didapati di negara lain, juga di negara maju.

Kepercayaan tenaga kesehatan akan sangat memengaruhi tingkah laku pasien HIV. Bila tenaga kesehatan beranggapan bahwasanya pasien HIV yang dirawat tidak ingin konsumsi metadon atau obat antiretroviral (ARV), pasien akan benar-benar tidak ingin konsumsi metadon serta ARV.

Menurut Culbert, beragam penelitian tunjukkan, dengan menyingkirkan stigma pada pasien HIV serta menjaga mereka dengan sepenuh hati malah dapat berpengaruh positif pada pencegahan penyebaran HIV.

”Pasien yang dirawat dengan baik, perilakunya akan beralih. Pasien akan cenderung mengikuti penyembuhan hingga penularan menyusut,” katanya.

Culbert memberikan, sampai kini beragam pihak di dunia menggerakkan program pencegahan serta penyembuhan HIV dengan cara terpisah.

Tetapi, perubahan riset merubah hal semacam itu. Usaha pencegahan dapat dikerjakan berbarengan dengan usaha kuratif. ”Pendekatan ini merubah paradigma kita,” tuturnya.

Pemahaman belum baik

Dosen FIK UI, Agung Waluyo, yang juga jadi pembicara di lokakarya itu, memberikan, penelitian yang ia kerjakan pada 2010-2011 tunjukkan, pemahaman perawat pada HIV belum baik. Penelitian dikerjakan pada 400-an perawat di empat rumah sakit di Jakarta.

Perawat cenderung menampik untuk menjaga pasien HIV. Hal semacam itu lantaran perawat tidak demikian memahami dengan seluk-beluk HIV serta langkah menjaga pengidap. Ada kecemasan, mereka akan tertular. Mengakibatkan, pasien HIV diperlakukan tidak sama oleh tenaga kesehatan.

”Jika dapat menentukan, perawat cenderung menentukan tidak untuk menjaga pasien HIV,” tutur Agung.

Menurut Agung, hal itu bukan hanya hanya kekeliruan perawat. Sarana pelayanan kesehatan tempat perawat bekerja juga turut andil. Hal semacam itu lantaran rumah sakit atau klinik tempat perawat bekerja tidak memfasilitasi sumber daya manusianya dengan pembekalan perihal HIV/AIDS. Dapat pula rumah sakit tidak mempunyai kebijakan yang baik pada pasien HIV.

Agung merekomendasikan, tenaga kesehatan selalu ikuti perubahan terbaru berkenaan pencegahan, penyembuhan, serta penanggulangan HIV.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *