Pergantian Pola Pikir Bisa Menolong Dalam Sukseskan JKN

Proses Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) nyatanya memanglah tidak senantiasa lancar. JKN mempunyai tujuan menambah standar kesehatan tetapi manfaat ini susah didapat bila tidak diikuti pergantian pola pikir serta rutinitas orang-orang. Oleh karenanya orang-orang serta tenaga kesehatan butuh mengerti keuntungan JKN untuk mereka.

Pergantian pola pikir inilah yang menghalangi proses JKN di beberapa kota di Indonesia. Hal sama juga berlangsung di Padang, Sumatera Barat.

“Persoalan pasti ada serta nyaris sama juga dengan kota yang lain. Sosialisasi yang terus-terusan jadi aspek utama implementasi JKN,” kata Kepala Cabang BPJS Kesehatan Kantor Cabang Padang, Sumatera Barat, Eddy Martadinata, pada roadshow proses JKN bersama BPJS Kesehatan di Padang, Kamis (27/3/2014).

BPJS Kesehatan Kantor cabang Padang yang menaungi Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, serta Kabupaten Pariaman telah melakukan sosialisasi JKN dari Oktober 2013. Sosialisasi itu menyasar orang-orang, tenaga kesehatan, penyedia layanan kesehatan (PPK), serta deretan pemerintah. Pada Kamis (27/3/2014), sosialisasi diberikan pada Unit Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), puskesmas, camat, serta kepala nagari.

Maksud utama sosialisasi yaitu supaya seluruhnya komponen orang-orang tahu manfaat utama JKN. Terhitung memberikan keyakinan PPK bahwasanya JKN tidak mengakibatkan kerugian lewat penerapan sistem paket yang dimaksud Indonesia Case Based Group’s (INA-CBG’s), bukan hanya fee for services. Sistem paket meyakinkan PPK berikan layanan efisien serta efektif, hingga berikan manfaat optimal untuk pasien.

“Kita meyakinkan senantiasa ada petugas BPJS Kesehatan di rumah sakit, untuk berikan penerangan serta pertolongan pada orang-orang yang mau memakai JKN. Untuk deretan puskesmas, setiap waktu mereka dapat menelepon melaporkan beragam kendala terhitung pencairan kapitasi tiap-tiap bulannya. BPJS Kesehatan juga teratur lakukan pertemuan dengan Dinas Kesehatan untuk menanggung kelancaran implementasi JKN,” tutur Eddy.

Persoalan yang sering nampak dalam aplikasi JKN yaitu kecukupan obat sepanjang 30 hari untuk penyakit kritis, serta sistem rujukan berjenjang ataupun berulang.

Sosialisasi diharapkan dapat menangani beragam kendala proses JKN, selain menanggung perbaikan sistem dari pemerintah pusat sampai ke lapangan hingga orang-orang betul-betul dapat nikmati faedah JKN. Dengan demikian, kesiapan deretan pemerintah serta PPK akan berbanding lurus dengan ketertarikan orang-orang pada JKN.

Eddy menyampaikan setiap harinya sekitar 400-500 orang antre mengatur kriteria untuk JKN. Karenanya ada kesiapan dari pemerintah serta PPK, harapan orang-orang pada JKN dapat terpenuhi.

“Saya benar-benar mengharapkan JKN mempermudah kami memperoleh layanan kesehatan. Hingga kami dapat lebih gampang memeriksakan kesehatan serta memperoleh penyembuhan,” kata Mahira (30) satu diantara peserta JKN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *