Mengkudu dan Jahe Merah Merupakan Obat Yang Efektif Untuk TB

Indonesia adalah negara dengan jumlah pasien TB keempat paling banyak di dunia. Oleh karenanya, diperlukan cara penyembuhan TB yang lebih efektif guna melakukan perbaikan keadaan itu. Satu diantara cara yang membuat pengobatan TB menjadi lebih kuat serta cepat yaitu dengan ekstrak mengkudu serta jahe merah.

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta Arifin Nawas menyampaikan, uji klinik acak pada pasien TB menunjukkan, gabungan ekstrak mengkudu serta jahe merah dapat membuat penyembuhan TB lebih efektif. “Penyembuhan menjadi lebih cepat serta kuat,” katanya.

Dalam acara diskusi SOHO #BetterU bertopik Hari Tuberkulosis Sedunia di Jakarta, Rabu (19/3/2014), Arifin menuturkan, kombinasi mengkudu serta jahe merah bukan hanya adalah penyembuhan utama dari TB, tetapi untuk ajuvan atau pelengkap penyembuhan TB.

Kedua herbal itu mempunyai peran yang tidak sama dalam penyembuhan TB. Arifin menuturkan, ekstrak mengkudu bisa mengaktivasi sistem imunitas dari pasien. “Diketahui penyakit TB baru berlangsung sesudah terinfeksi bakteri TB lantaran sistem imunitas badan yang mengalami penurunan, ” kata dia.

Sesaat itu, gabungan mengkudu serta jahe merah memberikan dampak sinergi antimikroba yang mencegah bakteri TB untuk tumbuh serta berkembang biak. Itulah mengapa kombinasi itu dapat juga menolong mengurangi penularan TB.

Arifin menjelaskan, kurun waktu kurang atau sama dengan enam minggu, sejumlah 20 pasien kelompok kombinasi mengkudu serta jahe alami perbaikan keadaan dibandingkan dengan 13 pasien yang hanya diberi plasebo. Parameter yang dipakai yaitu pergantian Basil Tahan Asam (BTA) positif ke BTA negatif.

Riset dikerjakan pada 100 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang diberikan penyembuhan TB serta kombinasi ekstrak mengkudu serta jahe merah, serta kelompok yang diberikan penyembuhan TB serta plasebo.

“Kombinasi ekstrak mengkudu serta jahe bisa diberikan untuk penambahan pada pasien TB yang tengah melakukan penyembuhan TB sesuai panduan TB nasional,” anjuran Arifin.

Kendari demikian, Arifin menyampaikan, dibutuhkan riset kelanjutan dengan jumlah subyek yang semakin besar serta kontrol status imunologi yang lebih lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *