Keseharian Paedofil Rupanya Berlaku Lembut Serta Baik pada Anak

Tidak seluruhnya pelaku kekerasan seksual lakukan aksinya dengan kekerasan. Pada paedofil serta predator anak umpamanya, mereka kerapkali memperlihatkan sikap lembut, baik, serta suka bermain dengan anak. Sikap yang lembut itu adalah tipu daya supaya anak menuruti keinginannya.

Sekian menurut dokter spesialis kejiwaan, Naek L Tobing. Ia menyampaikan, sikap paedofil yang lembut pada anak adalah topeng dari kekerasan yang ada di dalam dirinya. Kekerasan seperti hasrat melakukan sodomi disembunyikan dengan sikap sayang pada anak-anak yang mungkin melebihi dari orang-orang di sekitarnya.

“Tersebut penyebab mereka umumnya justru bekerja di tempat-tempat yang benar-benar erat hubungan dengan anak, umpamanya taman kanak-kanak, sekolah, rumah berkunjung untuk anak-anak telantar,” tuturnya waktu dihubungi Kompas Health, Kamis (17/4/2014).

Menurut Naek, tidak ada ciri-ciri fisik khusus pada paedofil. Tetapi, baiknya orangtua perlu berprasangka buruk bila perilaku seseorang terlampau baik pada anak. Orangtua juga harus memberikan pendidikan seks secara dini pada anak.

Anak untuk individu yang belum meraih skala kedewasaan belum dapat menilai suatu hal untuk tipu daya atau bukan hanya. Oleh karenanya, mereka butuh dibekali pendidikan seks.

Diambil dari Council of Europe, pendidikan seks dasar yang perlu diajarkan pada si kecil, diantaranya, mengajarkannya bahwasanya badan mereka harus dijaga serta dilindungi, perbedaan sentuhan yang layak serta tidak pantas dikerjakan, perbedaan rahasia baik serta buruk, serta mengajarkan langkah bereaksi pada aksi mencurigakan.

Selanjutnya, Naek menuturkan, paedofilia adalah kelainan seksual yang dicirikan dari mempunyai hasrat seks pada anak-anak.

Penyalurannya dapat melalui pemerkosaan pada anak wanita serta sodomi pada anak lelaki. Paedofilia dapat juga bermakna kombinasi dari keduanya. Tetapi, tidak hanya pria, menurut dia paedofilia dapat juga berlangsung pada wanita dewasa.

Ia menambahkan, paedofilia tidak terlampau dipengaruhi oleh genetika, namun oleh pengalaman seksual. Berarti, saat seorang memperoleh pengalaman seksual untuk pertama kali dengan cara sodomi serta menemukan kesenangan, besar kemungkinan ia tidak mau mencoba pengalaman seksual yang lain.

“Tetapi, bila tingkatan paedofilia seseorang belum 100% serta memperoleh terapi yang tepat, ia dapat dihindari tidak untuk jadi pelaku kekerasan seksual pada anak, walau barangkali hasrat mereka untuk lakukan sodomi itu tidak dapat hilang,” kata konselor seks dari University of Minnesota, Minneapolis, Amerika Serikat, ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *