Jangan Lakukan Beberapa Hal Ini Dalam Keadaan Kritis Darurat

Orang pemula akan kesusahan mengetahui keadaan gawat darurat pasien dengan penyakit spesifik atau korban kecelakaan misalnya. Hanya orang yang terlatih atau petugas medis yang dapat mengerti keadaan itu serta dapat bertindak tepat tanpa menyebabkan resiko.

Walau demikian, orang pemula tetap dapat menolong mengatasi keadaan kritis darurat, sekurang-kurangnya dengan tidak lakukan banyak hal yang dapat memperburuk keadaan pasien.

“Orang awal sulit mengetahui masalah emergency serta menanganinya. Masalah emergency dapat berbentuk kecelakaan atau penyakit. Butuh edukasi pada keluarga. Tetapi orang diluar profesi nonmedis dapat mengetahui tanda-tandanya dengan ikuti kursus,” kata Litacha Tamlicha, MARS dari RSU Bunda Jakarta, Kamis (13/3/2014).

Yang perlu dihindari 
Orang pemula tidak gampang mengetahui keadaan gawat darurat, tetapi tetap masih bisa membantu menyelamatkan pasien dengan tidak lakukan banyak hal yang dapat memperburuk keadaan pasien, diantaranya :

* Membaringkan pasien yang membuatnya susah bernapas 
Dokter spesialis anestesi, Ahmad Riviq Said menyampaikan, waktu pasien alami penurunan kesadaran, yakinkan terus dapat bernapas. Karena itu janganlah membaringkan pasien dengan posisi kepala yang membuat lidah pasien jatuh ke belakang. Posisi seperti ini akan menyumbat pernapasan hingga pasien alami kesusahan bernapas.

Tersumbatnya napas dapat juga dikarenakan oleh ada sumbatan cairan yang menyebabkan pasien susah menelan ludah. Bila keadaan ini yang Anda dapatkan pada pasien gawat darurat, selekasnya rebahkan pasien dengan posisi miring seperti tengah memeluk guling.

“Catatannya, dia bukan pasien trauma. Memiringkan tubuh pasien dapat menolong pernapasan lantaran cairan mengalir ke tempat lebih rendah hingga tidak menyumbat saluran napas pasien. Ini disebut posisi mantap,” tuturnya.

Menurut Riviq, posisi mantap (recovery position) perlu dilakukan walau pasien didapati tetap dapat bernapas. Bila pasien tidak dibaringkan miring, walau tetap dapat bernapas, cairan akan masuk ke saluran napas serta menyumbatnya.

* Janganlah diberi minum 
Menurut dokter spesialis bedah, IGAE Nari Laksmi Dewi, pasien dalam keadaan kritis darurat baiknya tidak diberikan minum.

Pada keadaan kritis darurat, biasanya orang pemula berikan minum untuk menentramkan pasien. Walau sebenarnya, Laksmi menyampaikan, langkah tersebut tidak tepat.

“Pasien sebaiknya dipuasakan, janganlah diberi minum, untuk meminimalisasi resiko yang barangkali timbul pada saat pembiusan,” katanya.

Laksmi menyampaikan, perut pasien akan penuh bila diberi minum. Waktu pasien dibius di rumah sakit, ia bisa muntah serta resikonya muntahan bisa masuk ke paru.

* Jangan asal memindahkan pasien 
Pada masalah kritis darurat akibat kecelakaan, walau orang pemula punya niat baik mau membantu, baiknya janganlah asal memindahkan pasien korban kecelakaan.

“Pada keadaan trauma, mesti pakar yang menangangi. Jangan sampai maksud membantu malah menambah parah keadaan pasien. Umpamanya kecelakaan di jalan, pasien tidak dapat dipindahkan sembarangan,” papar Riviq.

Memindahkan pasien kritis darurat dengan cara salah dapat berisiko fatal, juga wafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *