Fenomena “Cabe-cabean”, Hasil Perubahan Tingkah laku Seks Remaja

Dalam sekian waktu terakhir, arti “cabe-cabean” tengah ramai dibicarakan. Arti itu mengacu pada gadis berumur belia yang menjual dirinya. Sesungguhnya fenomena ini bukan hanya suatu hal yang baru. Menurut seksolog serta spesialis andrologi, Prof. Wimpie Pangkahila, remaja yang menjual seks telah berlangsung dari lama.

Ia menyampaikan, dari tahun 1981, riset tunjukkan ada pergantian pada tingkah laku seksual remaja. Seks tidak lagi dikira untuk hal yang sakral, namun seluruhnya orang, terhitung remaja, dapat mengerjakannya.

“Sikap orang-orang yang permisif barangkali jadi dasar dari pergantian tingkah laku seksual itu. Orang-orang pasti tahu ada pergantian tingkah laku seks di sekelilingnya, tetapi tidak benar-benar mau melenyapkannya,” tutur Wimpie waktu dihubungi pada Kamis (4/4/2014).

Pergantian tingkah laku seks, menurut dia, dipicu oleh pergeseran budaya sosial yang berlangsung di orang-orang itu sendiri. Hingga tidak heran bila anak remaja wanita juga mempunyai keberanian untuk menjual seks.

Wimpie menuturkan, pada intinya manusia yaitu makhluk seksual hingga setiap orang mempunyai keperluan dengan cara seksual. Tetapi, manusia juga mempunyai budaya yang melindungi mereka tidak untuk bebas beraktivitas seksual.

Umpamanya, dahulu wanita mesti lebih melindungi kehormatannya, tidak bisa mempunyai banyak pasangan, dan sebagainya. Tetapi bersamaan berubahnya budaya, nilai ini mulai tergerus serta terjadi pergantian tingkah laku seksual.

Bukan hanya kelainan otak
Wimpie menyampaikan, walau berlangsung pergantian tingkah laku seksual, tetapi bukan hanya bermakna berlangsung kelainan otak pada remaja “cabe-cabean”. Sisi otak yang mengatur masalah seks maupun hormon seksual tetap normal serta tidak berlangsung kelainan.

“Bila berlangsung kelainan, maka gejalanya tidak sama lagi. Ini otak, hormon, manfaat biologis semestinya normal, hanya tingkah laku seksualnya saja yang mengalami pergantian,” tegas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini.

Menurut dia, baik remaja wanita, lelaki, ataupun pelanggannya barangkali tidak alami kelainan otak berkenaan seks. “Ini cuma masalah pergantian tingkah laku seksual lantaran pergeseran budaya sosial,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *