Dermatitis Stasis Bukan hanya Sebatas Penyakit Kulit Biasa

Dermatitis stasis bukan hanya sebatas penyakit kulit yang berkenaan masalah kosmetik. Tiada penanganan pas, penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan serta turunkan kualitas hidup.

Dermatitis stasis yaitu manifestasi chronic venous disease (CVD) atau penyakit pada pembuluh darah yang tampak melalui peradangan kulit disebabkan insufisiensi kronik pembuluh darah vena di bagian bawah tungkai. Wajarnya aliran darah dari kaki mengalir ke jantung dengan pertolongan katup vena. Katup ini berperan melindungi darah terus mengalir menuju jantung, melawan kemampuan gravitasi.

Pada masalah CVD, manfaat katup tidak berjalan semestinya hingga darah mengalir kembali ke bawah (reflux). Mengakibatkan, berlangsung penumpukan darah pada vena. Dalam dermatitis stasis, manifestasinya warna kulit jadi kehitam-hitaman.

”Jika tidak dikerjakan serius, keadaan itu bisa berkembang diiringi tanda-tanda dermatitis seperti gatal-gatal, koreng, serta edema (pembengkakan). CVD bisa mengakibatkan kelumpuhan dan mengganggu produktivitas kerja,” kata dokter spesialis bedah vaskular Rumah Sakit Premier Bintaro, Alexander Jayadi Utama, di Jakarta, Sabtu (29/3), dalam seminar ”Gangguan Pembuluh Darah pada Dermatitis Stasis”.

CVD, kata dia, kerap tak dijamin asuransi kesehatan lantaran dikira penyakit kecantikan/masalah kosmetik belaka, satu kelompok dengan operasi plastik. ”Padahal, ini penyakit dengan prevalensi tinggi. Seputar 50% dari populasi dunia terkena varises,” kata Alexander.

Dengan cara global, CVD tidak teratasi benar, terbatas pada penanganan penyakit kulit. ”Yang teratasi benar cuma seperempat dari seluruh populasi pasien CVD. Misal, dari 100 orang, yang teratasi benar cuma 25 orang,” tutur Alexander.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Vaskuler serta Endovaskuler Indonesia (Pesbevi) R Suhartono menyampaikan, mutu hidup pasien CVD akan alami penurunan seiring berjalannya waktu. ”Penyakit ini bukan hanya persoalan dermatologi atau kulit. Ada persoalan mutu hidup yang selalu berjalan seumur hidup bila pembuluh darahnya tidak diperbaiki,” tutur Suhartono.

Di Indonesia, lanjut Suhartono, penanganan CVD kerap tidak tepat sasaran. Satu diantara gejalanya yaitu kaki pegal serta jadi berat. Waktu pasien pegal, umumnya dipijat. Dengan keadaan pembuluh darah terhalang seperti CVD, pijatan kencang malah menghimpit pembuluh darah sampai pecah. ”Penanganan salah mengakibatkan pendarahan. Mungkin berbuntut kematian,” kata dia.

Penanganan pertama pada CVD diawali dari diagnostik dengan ultrasonografi (USG). Persoalan utama ada pada system vena. ”Lewat USG dicari tahu wujud anatomi pembuluh darahnya, dimana penyumbatan serta reflux. Sesudah di ketahui, disusul terapi yang pas, umpamanya kompresi,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *