Bila Rentan Stres Diharapkan Janganlah Terjun ke Dunia Politik

Beberapa orang menyampaikan dunia politik itu keras. Hal itu dapat kita tengok dari sengitnya persaingan beberapa calon anggota legislatif dalam memperebutkan kursi. Mereka mesti mengorbankan saat, tenaga, serta uang yang tidak sedikit sepanjang masa kampanye. Karenanya bila seorang caleg yaitu orang yang mudah stres, sebaiknya pikir lagi sebelum mencalonkan diri.

Rawan tidaknya seorang pada stres dipengaruhi oleh beberapa hal. Kepribadian, gen, serta pengalaman saat lalu akan merubah bagaimana caranya kita menangani kondisi yang menyebabkan stres itu. Aspek kerentanan stres dari dalam diri dimaksud juga dengan aspek internal.

Dokter Andri Sp.KJ menyampaikan, timbulnya stres sampai jadi masalah kejiwaan dapat karena seorang memanglah rawan. Kerentanan itu terkait dengan aspek internal yang mencakup aspek biologis serta psikologis.

“Stres tidak dapat dipisahkan dari aspek biologis. Memanglah ada seorang yang otaknya rawan alami stres,” tutur Andri waktu dihubungi, Selasa (8/4/2014).

Aspek biologis terkait dengan daya penyesuaian dari otak, neurotransmiter, maupun hormonal. Andri menyampaikan, aspek biologis umumnya dipengaruhi oleh genetika hingga tidak dapat dirubah.

Sesaat itu, aspek psikologis terkait dengan kedewasaan memikirkan. Pada caleg, kata Andri, kedewasaan berpolitik itu utama untuk mengelola stres dari keikutsertaan jadi caleg.

“Nyaleg itu tidak gampang, pasti banyak stresor (penyebab stres) yang perlu dihadapi. Bila tidak dapat menahan tekanan, maka rentan mengalami gangguan. Tersebut mengapa kedewasaaan berpolitik itu dibutuhkan,” jelasnya.

Kedewasaan berpolitik yang disebut Andri nyaris sama juga dengan kedewasaan memikirkan, terhitung kekuatan untuk menerima ketentuan. Dengan berlaku menerima ketentuan, maka seseorang akan lebih sanggup menghadapi stresor serta terus sehat secara kejiwaan.

Kedewasaan memikirkan itu juga terkait dengan kekuatan berlaku toleransi. Menurut buku kesehatan keluarga Mayo Clinic, satu diantara dari semua kiat mengelola stres yaitu berlaku toleransi, baik pada diri sendiri ataupun pada situasi yang tidak teratasi. Kita perlu bisa mengerti serta menerima bahwasanya pergantian, entah itu kegagalan atau kebahagiaan, selalu berlangsung, suka atau tidak.

Selanjutnya Andri menuturkan, masalah kejiwaan bukan sekedar dipengaruhi satu aspek saja. Hingga pendekatan kejiwaan dipastikan melibatkan multifaktor.

“Maka umpamanya caleg mengalami stres, butuh dimengerti, tidak senantiasa mereka memanglah rawan. Namun tekanan yang datang terus-terusan lama-lama dapat juga membuat seorang tertekan,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *