Beberapa Dokter Belum Teratur Membersihkan Tangannya Sendiri

Kesadaran dokter membersihkan tangan untuk menghindar resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan masih kurang. Survei Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di beberapa rumah sakit di Jakarta 2013 menunjukkan, hanya 41% dokter yang membersihkan tangan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Departemen Mikrobiologi FKUI Anis Karuniawati menjelaskan, standar WHO mewajibkan tenaga medis untuk membersihkan tangan pada lima saat penting. Waktu utama itu yaitu sebelum saat menyentuh pasien, sebelum saat bertindak medis, sesudah terpapar cairan badan pasien, sesudah menyentuh pasien, serta sesudah menyentuh lokasi perawatan pasien. Ini untuk mencegah infeksi nosokomial, infeksi yang didapat di fasilitas kesehatan.

”Standar ini harus dipatuhi dengan benar untuk menghindar infeksi berkenaan pelayanan kesehatan pada pasien, tenaga medis, serta orang yang menjenguk,” kata Anis dalam simposium ilmiah ”Peranan Akreditasi Rumah Sakit dalam Menurunkan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan”, Kamis (20/3), di Jakarta. Simposium dihadiri ratusan dokter dari Jabodetabek.

Direktur RS Jantung serta Pembuluh Darah Harapan Kita Hananto Andriantoro menyampaikan, pihaknya mengamati tingkah laku tenaga medis dirumah sakitnya. Beberapa besar memanglah bersihkan tangan, namun tidak utuh pada lima saat penting.

Dari penilaian pada 2013, dokter paling banyak bersihkan tangan sesudah terpapar cairan badan pasien. Dokter tidak sering bersihkan tangan sebelum saat menyentuh pasien.

”Hal itu menunjukkan, dokter tetap condong memproteksi diri sendiri. Kesadaran serta prinsip pimpinan rumah sakit butuh ditingkatkan, ” kata Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Semua Indonesia Sutoto.

Data WHO, 1, 4 juta orang per tahun terkena infeksi nosokomial. Di Inggris, sekitar 5.000 orang wafat karena infeksi ini. Di Meksiko, infeksi ini jadi pemicu ketiga kematian paling besar. Di Indonesia belum ada data kolektif yang representatif.

Infeksi berkenaan pelayanan kesehatan yang kerap berlangsung yaitu infeksi aliran darah primer lantaran infus kotor, infeksi saluran kemih lantaran pemasangan kateter, infeksi saluran pernapasan disebabkan ventilator kotor, serta infeksi disebabkan perpindahan kuman melalui sentuhan serta hawa.

Kasubdit Bina Pelayanan Kesehatan Rujukan di RS Spesial serta Fasilitas Layanan Kesehatan Lain Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie menyampaikan, rumah sakit harus membuat komite serta tim ingindalian pencegahan infeksi. Hal semacam ini jadi satu diantara persyaratan akreditasi rumah sakit.

”Tidak cuma penyuluhan, pimpinan rumah sakit mesti memiliki komitmen sediakan sarana-prasarana pengendalian pencegahan infeksi. Misalnya, sediakan tempat bersihkan tangan di beberapa titik, ” tutur Putri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *