Anak Yang Mempunyai Masalah Mental Cenderung Menderita Pica

Anak dengan keterlambatan perkembangan mental condong mengalami masalah tingkah laku konsumsi suatu hal yang bukan hanya makanan, atau dimaksud pica.

Menurut psikiater anak dari FKUI-RSCM, Fransiska Kaligis, dalam literatur disebutkan angka persebaran pica pada anak dengan retardasi metal meraih 15%. Indonesia sendiri belum mempunyai data pasti berapakah angka peristiwa pica hingga saat ini serta apa aspek pemicunya.

“Memang terdapat banyak teori tetapi tidak diterima dengan cara universal. Sebagian memiliki pendapat pica lebih besar kemungkinan berlangsung apabila ada keluarga yang alami masalah yang sama. Ada juga yang menghubungkan dengan minimnya pasokan gizi pada anak, yakni besi serta zinc, sampai menyebabkan hasrat untuk konsumsi materi non makanan,” kata Fransiska.

Pica, terang Fransiska, yaitu suatu perilaku menetap untuk konsumsi substansi yang bukan hanya makanan serta telah berjalan kian lebih sebulan. Tingkah laku ini tidak cocok dengan tahap perubahan anak serta kultur yang berlaku. Menurut Fransiska, tingkah laku ini ada hubungan dengan belum matangnya tahap perubahan pada anak.

“Anak yang tetap terlampau muda atau alami keterlambatan perubahan dan tidak memperoleh pengawasan, mungkin saja belum tahu yang dikonsumsi bukanlah makanan. Bahkan sering kali konsumsi itu menyebabkan rasa senang,” kata Fransiska.

Dapat sembuh
Meski demikian, pica bukannya tidak dapat sembuh. Fransiska menyampaikan, langkah pertama yang perlu ditentukan yaitu penyebab gangguan. Apabila pica dipicu penelantaran orangtua maka keadaan tersebut yang diperbaiki terutama dahulu. Tetapi apabila pica adalah efek keterlambatan perubahan mental maka masalah tersebut yang diperbaiki terutama dahulu.

Terapi pica, kata Fransiska, konsentrasi pada tingkah laku serta edukasi orangtua. Terapi tingkah laku umpamanya, orangtua berikan penghargaan saat anak lakukan hal positif terhitung waktu anak mengonsumsi asupan yang disebut makanan. Sedang dari segi edukasi, orangtua menjadi contoh perilaku makan yang baik pada anak. Orangtua bersama anak kemudian dapat melakukan koreksi beragam rutinitas makan yang salah. Pastinya pemberian misal diimbangi juga dengan perhatian serta kasih sayang, yang akan menambah hasil terapi.

Tidak menular
Pica, kata Fransiska, biasanya tidak menular atau menghadirkan sugesti pada anak lain untuk lakukan hal sama. Jikalau menular umumnya tidak akan bertahan lama, terlebih bila anak mempunyai bagian perubahan sesuai sama usia. Tingkah laku ini juga tidak bertahan lama pada anak yang mempunyai kekuatan intelektual baik.

“Pica umumnya cuma berjalan sesaat serta akan perlahan hilang bersamaan umur. Tetapi pada pasien retardasi mental, pica memanglah dapat berjalan lama. Yang utama sepanjang anak melakukan tumbuh kembang yakinkan berikan perhatian yang cukup, hingga anak tahu konsumsi mana yang dapat dimakan,” kata Fransiska.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *