95 Tahun Telah ST Carolus Berorientasi Pada Keperluan Pasien

Pada umur yang ke-95, Pelayanan Kesehatan St Carolus ingin menjaga layanan yang bertujuan pada keperluan pasien. Langkah tersebut ditempuh untuk bertahan diantara semakin banyak rumah sakit dengan embel-embel bertaraf internasional.

Menurut JC Prihadi, Ketua Panitia Hari Ulang Tahun Pelayanan Kesehatan St Carolus, RS St Carolus tidak sempat bertujuan ikuti tren, namun konsentrasi melayani sesuai keperluan pasien. Hal semacam itu dengan lihat data pola penyakit serta pemakaian sarana paling banyak setiap tahun. Untuk deskripsi, St.Carolus tidak mempunyai unit bedah kecantikan lantaran menurut data, tidak ada pasien yang memerlukan layanan itu.

Rumah sakit ini dapat mengutamakan aspek edukasi pada pasien. Prihadi menuturkan, walau St Carolus dapat berikan aksi medis dengan peralatan cukup, yang lebih utama yaitu tenaga medis serta pasien tahu kapan aksi medis mesti dikerjakan. Untuk misal, St Carolus dapat melakukan bedah laparoskopi (tehnik operasi dengan bikin sayatan kecil cuma 5-7 sentimeter di seputar pusar untuk memasukkan alat operasi serta kamera mini).

”Tapi, pasien yang dibedah hanya mereka yang betul-betul memerlukan. Jadi, tidak serta-merta meminta pasien operasi,” kata Prihadi yang didapati di Family Health Care Expo di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (4/4).

Asas bela rasa

Sr Birgitta Diah Yuliati, CB, Direktur Keperawatan Pelayanan Kesehatan St Carolus, memberikan, pihaknya berusaha lakukan edukasi ke orang-orang untuk hidup sehat serta tidak senantiasa memercayakan rumah sakit untuk menjaga kesehatan.

Tantangan yang dihadapi St Carolus, menurut Birgitta, yaitu mengelola sistem yang berciri khas. Selain mengikuti perubahan teknologi, St Carolus berusaha selalu menjaga asas bela rasa (compassion) pada pasien.

Untuk rumah sakit nirlaba, St Carolus berperan serta dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Karenanya, tiga Balai Kesehatan Orang-orang St Carolus di Paseban, Cengkareng, serta Klender akan dirubah jadi klinik pratama, untuk pemberi layanan kesehatan dasar.

Dibuka untuk umum 1919

Pelayanan Kesehatan St Carolus dibuka untuk umum pada 21 Januari 1919 dengan 40 tempat tidur.

Rumah sakit ini dirintis Mgr Luypen dari Vikaris Apotolik Batavia (saat ini Keuskupan Agung Jakarta) pada 1910. Tahun 1913, Vikaris Apotolik Batavia membuat kesepakatan kerja sama dengan Pemimpin Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St Carolus Borromeus, yang disahkan pemerintah Hindia Belanda pada 1915.

Pada tahun yang sama, gedung rumah sakit mulai dibangun. Selesai Perang Dunia I tahun 1918, 10 suster misionaris dari Belanda datang untuk menjadi perawat di St Carolus. Sempat diambil alih Pemerintah Jepang pada saat pendudukan pada 1943, RS St Carolus dikembalikan pada Suster-suster Cinta Kasih St Carolus Borromeus pada 20 Agustus 1945.

Saat ini, St Carolus sudah berkembang mempunyai 372 tempat tidur, dengan tidak kurang dari 100 dokter spesialis. Pencapaiannya, diantaranya, tahun 2007 serta 2010, rumah sakit ini memperoleh predikat RS Sayang Ibu serta Bayi terbaik se-DKI Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *